Harga Komoditi Perkebunan di Tanjabbar Anjlok, Petani Inginkan Campur Tangan Pemerintah


Selasa, 31 Juli 2018 - 14:13:03 WIB - Dibaca: 1827 kali

Petani Kelapa sedang Mengupas Kelapa Hasil Panennya.(ilustrasi/net) / HALOSUMATERA.COM

KUALATUNGKAL - ‎Harga komoditi perkebunan di tingkat penampung dan tengkulak merosot. Hal ini membuat petani lesu dan kehilangan omset.

Komoditi perkebunan yang mengalami penurunan harga jual seperti Kelapa Sawit, pinang, kelapa dan kopi. 

Dari informasi yang diperoleh, untuk harga TBS mengalami penurunan sebesar 200 rupiah per kilogramnya, dari Rp 800/ kg, kini cuma dihargai Rp 600 di tingkat petani. Harga pinang, dari 10.500 /kg turun menjadi Rp 8.000. Sementara harga kopi, ‎dari 40 ribu kini menjadi 28.000/ kilogramnya. Begitu juga kelapa, per butirnya diharga Rp 800.

‎Solikin, salah seorang petani di Kecamatan Betara menyebutkan jika anjloknya harga komoditi ini menjadi pukulan telak bagi petani.

Tidak ada yang bisa dilakukan, selain pasrah dan menerima apa adanya. Petani di wilayahnya sangat berharap campur tangan pemerintah menstabilkan harga komoditi perkebunan.

"Harga jual hasil perkebunan ini tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan," ungkapnya.

‎Bapak tiga anak ini menambahkan jika penurunan harga perkebunan ini berbanding terbalik dengan harga ayam dan telur yang justru mengalami kenaikan harga.

"Jangankan untuk sehari-hari, untuk menutupi biaya produksi saja kita pusing 7 keliling,"tukasnya.

‎Hal senada juga diungkapnya Yumi (66) warga Kelurahan Mekar Jaya. Meski mengaku sangat terpukul dengan anjlok harga hasil perkebunan, dirinya tetap melakukan pemanenan.

"Meski harga sangat rendah, tapi tetap harus dipanen. ‎Ya, ibaratnya seperti buah simalakama. ,"ucapnya singkat.

Endang, petani kelapa yang memiliki kebun di Seberang Kota juga mengeluhkan hal sama. Beberapa hari yang lalu dia mengaku menjual kelapa bulat yang telah dikupas sabutnya, seharga Rp 800 per butir.

"Jauh selisihnya, dulu bisa sampai Rp 2.000 an. Kalau dicongkel memang harga tinggi, tapi biaya operasionalnya besar. Hitungan sama saja, mending jual kelapa bulat," kata Endang.

Endang juga mengaku heran, harga jual komoditi pertanian di Tanjabbar sewaktu-waktu dengan mudah berubah, sementara harga yang ditetapkan pemerintah bisa lebih dari itu.

"Tolong kepada pemerintah untuk bisa membantu petani mendongkrak harga jual komoditi perkebunan," tambahnya.(*/edis)

Editor : Andri Damanik

 




Komentar Anda



Terkini Lainnya

Ketua Rim Nitahi HMB Desak APH Bertindak terhadap Terduga Perusak Hutan Adat di Tapsel

BATANG ANGKOLA – Ketua Parsadaan Rim Nitahi Haruaya Mardomu Bulung (HMB), Ahmad Kaslan Dalimunthe, Gelar Mangaraja Siombaon Parlindungan mendesak Aparat Pene

Berita Daerah

Kolaborasi Jadi Kunci, Tanjab Barat Peringati May Day 2026 dengan Semangat Kebersamaan

TANJAB BARAT – Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) Tahun 2026 dengan penuh semangat kebersamaan antara p

Advertorial

Bupati Tanjab Barat Tinjau Program Bedah Rumah BAZNAS di Dua Kelurahan

TANJABBAR – Komitmen menghadirkan hunian layak bagi masyarakat terus diwujudkan. Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag., turun langsung menin

Advertorial

Tinjau Lokasi Kebakaran di Teluk Nilau, Bupati Anwar Sadat Instruksikan Penanganan Maksimal

TANJAB BARAT – Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag., meninjau langsung lokasi kebakaran di Kelurahan Teluk Nilau, Kecamatan Pengabuan, Juma

Advertorial

Pemkab Tanjab Barat Gelar Malam Perpisahan Kajari Anton Rahmanto

TANJAB BARAT – Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat menggelar malam perpisahan untuk Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tanjab Barat, Anton Rahmanto, S.H.,

Advertorial


Advertisement