HABIS terang terbitlah gelap. Kiasan ini mungkin pantas disandang Kota Kerang yang terletak di Pantai Timur Provinsi Jambi. Di saat Tanjungjabung digelar pelabuhan terbuka pada 1997 silam, barang bekas kian menjamur. Sejak diterbitkannya Permendag Nomor 44/M-DAG/Per/12/2008 dan diperbahurui lagi dengan Permendag No 56/M-DAG/Per/12/2008 tentang ketentuan impor produk tertentu kota ini sepi dengan barang murah meriah eks Singapura.
Oleh: Andri Damanik
Kualatungkal salah satu kota kecil di Provinsi Jambi. Selain memiliki potensi perkebunan dan migas, Tanjabbar sempat tenar di era 1990-an, yakni dengan barang bekas (PJ,red). Kala itu, warga dari luar daerah berbondong-bondong mengunjungi kota di tepi Sungai Pengabuan ini, hanya untuk membeli barang bekas eks Singapura. Kini, barang bekas tak menjamur seperti dulu.
Kota bahari ini sempat terkenal di tahun 1997. Pada waktu itu, Departemen Perhubungan secara resmi menunjuk Pelabuhan Kualatungkal sebagai pelabuhan terbuka. Ternyata, seiring berjalannya waktu, kota yang terkenal dengan pasar PJ itu tenggelam setelah Menteri Perdagangan menerbitkan Permendag Nomor 44/M-DAG/Per/12/2008 dan diperbahurui lagi dengan Permendag No 56/M-DAG/Per/12/2008 tentang ketentuan impor produk tertentu.
Diterbitkannya peraturan menteri perdagangan tersebut secara tidak langsung mematikan perekonomian di Kota Kualatungkal. Impor produk tertentu diantaranya, makanan dan minuman, alas kaki, pakaian jadi, mainan anak-anak dan elektronika hanya diperbolehkan masuk melalui lima pelabuhan laut tertentu dan seluruh pelabuhan udara Internasional.
Kendati demikian, pedagang barang bekas yang berada di Parit Satu masih bisa tersenyum. Pasar Parit Satu dan Jalan Pelabuhan merupakan sentra penjualan barang bekas dari Singapura dan Malaysia. Mulai dari pakaian bekas hingga barang elektonika dapat dijumpai di lokasi ini. Pembeli berdatangan dari luar kota, hingga luar Provinsi. Dahulu, harga PJ (sebutan barang bekas) masih terjangkau dan menjadi bisnis yang menjanjikan. Sekarang, harga PJ sudah menyamai harga jual barang baru. Disamping itu, PJ tidak bisa masuk sebebas tahun 90-an, tersandung kebijakan Departemen Perdagangan.
Said, salah satu pedagang Pakaian Bekas di jalan Pelabuhan beberapa waktu lalu mengatakan, bisnis pakaian bekas tidak begitu menggiurkan bila dibandingkan 18 tahun yang lalu. Saat ini, ia belanja barang PJ dari tembilahan dengan harga beli dua kali lebih besar dari sebelumnya. Seperti jacket kulit, satu Bal-nya bisa dihargai Rp 14 juta.
“Kalau dulu harga satu Balnya hanya Rp 6 juta – Rp 7 juta. Kita masih bisa dapat untung,” kata Said.
Pembeli juga tidak bejibun seperti dulu. Selain harga jual yang tinggi, model-model pakaian tidak begitu menarik pembeli. “Mau tidak mau kita harus naikkan harga jual, karena modal saja sudah besar. Kita tidak ambil dari kapal lagi, tapi mesan dari Tembilahan, Kepri. Sistem pembayaran melalui rekening. Kita transfer dulu, baru barang dikirim,” ujar lelaki yang sudah 20 tahun berjualan pakaian bekas ini.
Pakaian bekas yang dijualnya pada tahun 1997 ke atas tidak hanya buatan Singapura dan Malaysia. Produk jepang dan korea banyak dijualnya dengan kualitas menyamai pakaian jadi. “Tentunya harganya masih terjangkau pembeli. Kitapun beli barang bisa dibayar di belakang. Satu hari buka bal, bisa habis laku terjual. Kalau sekarang, putaran duitnya bisa sampai tiga bulan,” keluhnya.
Sepi Pengunjung
SECARA terpisah, Marnus, pedagang kipas angin bekas di Jalan Parit Satu mengeluhkan sepinya pengunjung. Ia membeli kipas angin bekas melalui ABK yang berangkat ke Singapura dan Malaysia. Ia merupakan pihak ketiga dari transaksi jual beli PJ ini.
“Saya bayar uangnya ke perantara. Orang itu yang mesankan ke ABK. Setelah barang datang, baru dijemput,” kata Marnus.
Putaran modal dari penjualan kipas angin bekas terbilang lambat. Selain sepinya pembeli, ia tidak memiliki pelanggan khusus dari dalam kota maupun luar kota. Sementara modal penjualan tidak bisa dipastikan, karena setiap barang yang masuk tidak semuanya bisa dipakai.
“Misalnya, dari 50 kipas angin yang saya pesan, paling banyak 30 kipas yang bisa dipakai. Makanya, modal saya dihitung dari 30 kipas angin yang bagus itu,” jelasnya.
Harga jual kipas angin bekas bervariasi, mulai dari Rp 150 ribu sampai dengan Rp 300 ribu. Seperti kipas angin model tegak, dijualnya dengan harga Rp 180 ribu. Kipas angin model gantung harganya hampir sama dengan kipas angin tegak, di kisaran Rp 150 ribu – Rp.200 ribu.
“Kalau modelnya bagus bisa sampai Rp 300 ribu,” tuturnya lagi.
Dalam seminggu belum tentu kipas anginnya laku terjual. Begitu juga dengan jadwal belanja barang, tidak bisa dipastikan. “Kadang-kadang bisa sampai tiga bulan baru mesan barang. Karena jadwal pemberangkatan ABK juga tidak tentu.
Disaat ABK berangkat, kipas angin belum semuanya terjual, jadi kita belum bisa belanja. Itu masalahnya, tidak semudah dulu waktu kapal masih bebas bawa barang luar,” ujarnya.(*)
TANJABBAR – Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag., menyambut hangat kunjungan silaturahmi Tim Safari Ramadan Majelis Ulama Indonesia (MUI) P
TANJABBAR – Festival Arakan Sahur 2026 di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat) resmi mencapai puncaknya pada minggu ketiga Ramadan, Sabtu (7/3/26). R
TANJABBAR – Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag., bersama Ketua TP-PKK Tanjab Barat, Hj. Fadhilah Sadat, S.H., memimpin aksi penyerahan zak
JAMBI - Kapolda Jambi yang diwakili Dirintelkam Polda Jambi Kombes Pol Yuli Haryudo, S.E menghadiri kegiatan buka bersama dan Khotmil Quran Pengurus Wilayah Ger
JAMBI – Polda Jambi menggelar buka puasa bersama dengan mengundang unsur Forkompimda Provinsi Jambi, tokoh agama, ormas, OKP dan insan pers, Kamis (26/2/2