Asumsi dan Narasi Survei dalam Diskusi Warung Kopi Pilgub Jambi


Minggu, 01 November 2020 - WIB - Dibaca: 1000 kali

Dr Noviardi Ferzi SE MM - Direktur Media Center FU SN / HALOSUMATERA.COM

Oleh: Dr Noviardi Ferzi SE MM - Direktur Media Center FU SN

Bisakah mengukur kekuatan para calon Gubernur Jambi dengan menggunakan 800-an Responden? Tanya seorang teman ngopi yang sebetulnya jarang sekali ketemu selain dari media sosial kemarin.

Pertanyaan ini kujawab, "Ohh tentu bisa selama yang diwawancarai mewakili populasi,” jelasku. Dan setelahnya diskusi kami panjang lebar, keluar masuk ranah statistik, asumsi dan narasi hingga masuk kembali pada metodologi survei politik, uniknya semua obrolan praktis itu terjadi di salah satu warung kopi di Kota Jambi bukan ranah seminar atau dialog formal.

Politik hari ini memang melahirkan asumsi dan narasinya sendiri, tidak lagi mengalir apa adanya mengikuti gaya dari seorang calon.  Dalam konteks ini hampir semua pendukung memiliki asumsi sendiri tentang calon Gubernur yang didukungnya, karena asumsi sudah dikembangkan narasi politik pun mengikuti.

Salah satu narasi yang kini menjadi trend dan selalu dikembangkan oleh timses atau pendukung adalah tentang survei Pilgub Jambi dengan segala dimensinya.

" Survei lembaga anu nov (sembari menyebut nama lembaga survei papan atas di Ibukota ) calon saya sudah 40 persen Elektabilitas-nya, hampir semua pemilih wanita memilih kami, dan kandidat anu tertinggal jauh,” ungkap teman bicara saya penuh semangat.  

Sebenarnya saya cukup terkejut ketika ia mampu berbicara tentang kontruksi pengenalan calon (Popularitas), penerimaan calon (Akseptabilitas) hingga tingkat keterpilihan (Elektabilitas) secara baik ditambah bonus cerita bagaimana bisnis survei dijalankan dan pembuktian melalui pembicaraan telepon dengan pimpinan salah satu lembaga survei di Jakarta bahwa survei calonnya lagi dikerjakan.

Keterkejutan yang lebih pada bentuk kekaguman sebenarnya, mengingat pekerjaan teman tersebut sebenarnya bergerak di sektor Konstruksi dan kini ia menjadi tim sukses seorang calon gubernur. Rasa kagum ini bertambah saat terbayang dalam benak saya menjelang pencalegan 2014 silam, sang teman masih sibuk ngurus paket C nya untuk bisa nyaleg, walau akhirnya tak jadi nyaleg untuk fokus usaha, tapi kemampuannya untuk berbicara survei dengan konstruks lengkapnya mendekati pengamat sekalipun. Nampaknya survei telah menjadi obrolan warung kopi yang amat populer, siapa saja bisa membicarakannya tanpa melihat status, pekerjaan dan pendidikan lagi.

Namun kondisi ini tentu saja menimbulkan dis informasi di dunia survei itu sendiri sebenarnya. Karena jika bicara akurasi dari data yang diobrolkan pembicaraan di warung kopi justru amat bias, suka - suka dan tidak bisa dijadikan rujukan sama sekali, tergantung siapa yang ngobrol dan di pihak mana ia berada dalam Pilgub kali ini.

Selaku pihak yang sering melakukan survei pilkada, lembaga survei sendiri sebenarnya selalu diminta tidak banyak bicara tentang hasil surveinya, penulis bahkan pernah di datangi ke Jambi oleh bakal calon Walikota Sawahlunto Sumatera Barat, hanya untuk presentasi Survei, karena takut datanya bocor atau diketahui pihak yang tidak perlu.

" Saya takut orang salah mengartikan datanya bang nov, kan kacau nanti,” ungkap bakal calon walikota yang berprofesi dokter gigi tersebut.

Kekhawatiran seperti yang ditunjukkan bakal calon walikota ini sebenarnya mewakili dari kegunaan dasar dari survei pilkada dilakukan. Dahulu awalnya survei dilakukan untuk pemetaan kekuatan seorang calon, dari hasil surveilah diketahui strategi apa yang akan dilakukan dengan tingkat kekuatan yang ada, disinilah pentingnya silent sebuah survei, karena jika sudah diketahui orang banyak, strategi yang dirumuskan pun akan kurang efektifitasnya. Jadi survei yang baik adalah survei yang tidak diobrolkan dalam ranah publik, karena itu bagian dari sebuah strategi.

Namun, itu hanya pemahaman saya buktinya kini banyak calon dan tim suksesnya menjadikan Survei alat propaganda tentang peluang menang mereka. Sah - sah saja sih, walau kini dosis pembicaraan tentang ‘Survei’ sudah amat berlebih, sehingga orang tak bisa lagi membedakan mana yang betulan dan mana yang hanya cerita di warung kopi. Wallahu alam bishawab....




Komentar Anda



Terkini Lainnya

Polda Jambi Kerahkan 123 Personel Gabungan, Evakuasi Korban Tertimbun Longsor di Sarolangun

SAROLANGUN - Kecelakaan kerja kembali terjadi, sebuah insiden longsor menimpa sejumlah warga di Dusun Mengkadai, Desa Temenggung, Kecamatan Limun, Kabupaten Sar

Berita Daerah

SN Simpan Narkoba dalam Kotak Rokok, Kini Diamankan di Polres Tanjabbar

KUALA TUNGKAL – Polres Tanjung Jabung Barat terus menunjukkan komitmen tegas dalam memberantas peredaran gelap narkotika. Satuan Reserse Narkoba (Satresna

Hukum & Kriminal

Pelaku Tabrak Lari Nekat Terobos Penjagaan Polda Jambi, Akhirnya Diamankan Positif Narkoba

JAMBI - Mitsubishi Pajero Sport hitam doff dengan nomor polisi B 1989 PRS diduga plat bodong menerobos penjagaan Polda Jambi, Minggu dini hari (18/1/26). Pajero

Berita Daerah

Maling Beraksi Lewat Pedestrian Anak Sungai Kualatungkal, As Pompong Milik Nelayan Nyaris Hilang

KUALATUNGKAL - Warga di Jalan Nelayan RT 16 Kelurahan Tungkal IV Kota, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjabbar, Jambi resah aksi pencuri onderdil pompong, R

Berita Daerah

Temuan Rp 781 Juta, Rekanan Proyek Pintu Air Baru Kembalikan Rp 300 Juta

KUALATUNGKAL - Dugaan kejanggalan terhadap Proyek Pintu Air Parit 10 Desa Tungkal I Kabupaten Tanjabbar senilai Rp 4 miliar akhirnya terjawab. Hasil Audit Tata

Berita Daerah


Advertisement