Melam Bangun: Komoditi Perkebunan Tergantung Pasar Luar Negeri


Selasa, 31 Juli 2018 - 18:31:46 WIB - Dibaca: 1728 kali

Petani Kelapa Sawit Menjerit, Harga Jual Anjlok di kisaran Rp 600 per kilogram.(ilustrasi/net) / HALOSUMATERA.COM

KUALATUNGKAL – Harga komoditi perkebunan kian anjlok, dipengaruhi dengan permintaan pasar luar negeri. Hal ini membuat pemerintah tak bisa berbuat banyak.

Sebagaimana dikatakan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Tanjabbar Ir Melam Bangun, kepada infotanjab.com, Selasa sore.

Harga komoditi ekspor seperti kelapa sawit (TBS), pinang, kelapa, kopi dan karet memang sulit dikendalikan. Pasalnya, harga tergantung permintaan ekspor.

“Bila permintaan tinggi di pasar luar negeri, maka harga bisa naik,” kata Melam.

Dikatakan Melam Bangun, harga TBS di pabrik sebagaimana yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 1.460 per kilogram. Hanya saja, harga ini berlaku untuk TBS berkualitas baik.

Sehingga, kata Melam, harga TBS di tingkat petani bisa naik bila dekat dengan pabrik. “Seperti di wilayah Ulu, harga jual petani bisa diatas Rp 1000 per kilo, karena di sana banyak PKS. Sementara di wilayah ilir, betara tidak ada pabrik kelapa sawit,” jelas Melam.

Melam menyarankan, sebenarnya untuk mempertahankan harga jual TBS bisa saja dilakukan asal para petani sawit solid. Artinya, petani menjual hasil panennya langsung ke pabrik tanpa perantara.

“Kebanyakan jual ke pengumpul, sehingga ada pemotongan-pemotongan harga,” ujarnya.

Bagaimana dengan komoditi lainnya? Melam menegaskan, harga jual karet diatur melalui Disperindag Provinsi. Itupun masih terjadi penurunan harga samahalnya dengan komiditi lainnya. Pinang, kelapa dan kopi, sama sekali tidak diatur harga jual di pasaran.

“Pinang, kelapa dan kopi itu tidak diatur harga standarnya oleh pemerintah. Pernah kita usulkan ke pusat, untuk dilakukan pemantau tauan harga tiga komoditi tersebut, namun tidak ditanggapi karena baru TBS yang dipantau mengingat banyak perusahaan Negara yang terlibat dalam perkebunan. Kalau harga TBS anjlok, tentu penerimaan Negara akan merosot,” timpalnya.

Melam menambahkan, jika dibuat ketetapan harga di Kabupaten Tanjabbar, dikhawatirkan terjadi ketimpangan. “Bisa ribut nanti. Kalaupun ditetapkan khusus pinang, kelapa dan kopi, bisa dilakukan skala provinsi. Itu bisa, tapi sulit untuk menyatukan petani kita ini,” tambah Melam.

Sebagaimana diberitakan, harga TBS di tingkat petani mengalami penurunan dari Rp 800 per kilo menjadi Rp 600 per kilo. Begitu juga dengan pinang, dari Rp 10.500 per kilo turun drastis menjadi Rp 8.000/ kilo.

Komoditi kopi juga anjlok dari Rp 40 ribu per kilo menjadi Rp 28 ribu per kilo. Kelapa juga turut anjlok, dari Rp 1.000 per butir menjadi Rp 800 per butir.(*)

Editor : Andri Damanik




Komentar Anda



Terkini Lainnya

Polda Jambi Kerahkan 123 Personel Gabungan, Evakuasi Korban Tertimbun Longsor di Sarolangun

SAROLANGUN - Kecelakaan kerja kembali terjadi, sebuah insiden longsor menimpa sejumlah warga di Dusun Mengkadai, Desa Temenggung, Kecamatan Limun, Kabupaten Sar

Berita Daerah

SN Simpan Narkoba dalam Kotak Rokok, Kini Diamankan di Polres Tanjabbar

KUALA TUNGKAL – Polres Tanjung Jabung Barat terus menunjukkan komitmen tegas dalam memberantas peredaran gelap narkotika. Satuan Reserse Narkoba (Satresna

Hukum & Kriminal

Pelaku Tabrak Lari Nekat Terobos Penjagaan Polda Jambi, Akhirnya Diamankan Positif Narkoba

JAMBI - Mitsubishi Pajero Sport hitam doff dengan nomor polisi B 1989 PRS diduga plat bodong menerobos penjagaan Polda Jambi, Minggu dini hari (18/1/26). Pajero

Berita Daerah

Maling Beraksi Lewat Pedestrian Anak Sungai Kualatungkal, As Pompong Milik Nelayan Nyaris Hilang

KUALATUNGKAL - Warga di Jalan Nelayan RT 16 Kelurahan Tungkal IV Kota, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjabbar, Jambi resah aksi pencuri onderdil pompong, R

Berita Daerah

Temuan Rp 781 Juta, Rekanan Proyek Pintu Air Baru Kembalikan Rp 300 Juta

KUALATUNGKAL - Dugaan kejanggalan terhadap Proyek Pintu Air Parit 10 Desa Tungkal I Kabupaten Tanjabbar senilai Rp 4 miliar akhirnya terjawab. Hasil Audit Tata

Berita Daerah


Advertisement